Seabad Keruntuhan Ottoman

SICUPAK.COMSETIDAKNYA ada enam teror maut yang menghantam Turki sepanjang 2016. Terakhir pada 11 Desember 2016 lalu, bom meledak dari mobil di luar Vodafone Arena, stadion markas Besiktas -klub sepakbola Turki. Tahun 2023, akan menjadi tahun dinanti, Kesultanan Ottoman -Turki Utsmani jatuh pada 1924 (100 tahun keruntuhan).

Lantas, apa hubungan Turki 2023 dengan teror bom yang terus mengincar kota dua benua itu? Dikutip dari Yeni Safak -media Turki, Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, 21 Mei 2015, membuka pusat riset dan percobaan sistem antariksa, TUSAS, yang bisa dikatakan sebagai langkah awal untuk mengembangkan bidang antariksa di Turki.

TUSAS akan menjadi salah satu perusahaan pelopor dalam bidang antariksa. Memimpin dan selalu memberikan yang terbaru dalam bidangnya. Turki sudah membuktikan bisa maju juga dalam bidang antariksa. "Pada tahun 2023, Turki akan menjadi posisi terhormat dalam bidang antariksa," kata Erdogan dilansir Yeni Safak.

Pada 20 Desember 2016, sebuah terowongan besar -Eurasia Tunnel- yang membelah laut Turki Asia dan Eropa diresmikan oleh Pemerintah Turki di bawah Adalet Kalkinma Partisi (AKP). Pembangunan dua lantai bawah terowongan memakan waktu empat tahun.

Panjang total dari proyek ini adalah 14,6 kilometer (sembilan mil) dan 5.4 kilometer berada di dasar laut Bosphorus, Istanbul. Terowongan ini dirancang tahan terhadap gempa bumi dan tsunami, serta dapat digunakan sebagai bunker jika diperlukan. Di samping itu, Turki juga mengurusi perbatasannya, Aleppo -Suriah yang sudah mencapai 2,9 juta jiwa mengungsi ke Turki.

Itu adalah dua contoh mega proyek yang masih segar jika melakukan browsing di internet. Meski media di Indonesia, hanya beberapa yang menulisnya. Bila berjalan atau mengunjungi Turki, misalnya Istanbul, akan mudah mendapat beberapa baliho bertuliskan Yeni Turki 2023, atau Turki Baru 2023.

Erdogan merumuskan negara Turki Modern yang pada tahun 2023 menjadi kekuatan politik dan ekonomi nomor satu di dunia. Turki menyiapkan 300 ribu ilmuwan untuk penelitian ilmiah menuju tahun 2023, tantangan semakin besar, seketika Turki mendapat begitu banyak musuh.

Enam teror yang melanda Turki seperti dirilis BBC selama 2016, diantaranya sejak 17 Februari, serangan menarget konvoi militer di Ankara dan merenggut sedikitnya 28 nyawa. 13 Maret, ledakan bom mobil bunuh diri di Ankara menewaskan sekitar 37 orang. Pelakunya militan Kurdi.

Kemudian 28 Juni, serangan bersenjata dan bom di Bandara Ataturk Kota Istanbul menewaskan 41 orang. Serangan itu didalangi ISIS. Pada 30 Juli, militer Turki menawan pemberontak Kurdi yang menyerbu pangkalan mereka. Bentrokan berakhir dengan kematian sedikitnya 35 pemberontak. Dan pada 20 Agustus juga terjadi ledakan bom di pesta pernikahan warga di Kota Gaziantep oleh ISIS. Mereka tidak mengincar seorang tokoh, tapi Turki 2023.

Teror dilancarkan demi mengganggu stabiitas dalam negeri Turki, agar Turki tidak banyak berkecimpung dan memberi pengaruh bagi dunia Internasional. Menakut-nakuti turis agar ekonomi Turki guncang. Apalagi, tempat wisata tersebut titik wisata paling ramai di Istanbul, di kompleks Masjid Biru dan Hagia Sophia. 

Sebagai negeri yang tiap jengkal wilayahnya peninggalan banyak peradaban besar (Yunani, Romawi, Kristen, Islam), Turki sangat menarik perhatian turis. Turki yang berpenduduk 74,93 juta jiwa (2013) setiap tahun dikunjungi 20 juta–40 juta turis.

Setelah sejumlah teror yang terjadi di negeri dua benua itu, Turki tetap dalam stabilitas yang tinggi, mega proyek pembangunan dan misi lainnya masih terus berjalan. Bahkan, capaian itu menjadikan popularitas Erdogan moncer secara internasional, hingga ke Indonesia. 

Dalam buku karya Syarif Taghian, ERDOGAN - Muazzin Istanbul Penakluk Sekulerisme Turki, militer di Turki adalah super power. Mereka adalah pahlawan, pelindung bintang bulan, para pemegang keputusan hukum di tingkat tinggi kehakiman. Militer adalah penjaga setia sekulerisme di Turki.

Militer telah menjatuhkan empat orang presiden sejak 1960 karena dinilai akan menggantikan sekularisme dengan Islam. Terakhir, presiden Erbakan digulingkan, dan partainya Refah dibubarkan karena pro Islam. Erbakan adalah gurunya Erdogan. 

Namun, Erbakan tidak setuju dengan cara Erdogan berkerjasama dengan barat walaupun membela Islam. Ia menyebutkan, “Erdogan itu memang masuk sekolah, tapi keluar lewat pintu belakang. Ia tidak mendengarkan pelajaran.” 

Walaupun Erbakan mengkritisi terus Erdogan, tapi Erdogan secara rutin menelpon Erbakan, sekedar untuk menyanyakan kesehatan dan lainnya. “Pertanyaan-pertanyaan Erdogan untukku itu tidak berguna sama sekali.”

Sejak tahun 2003, percobaan kudeta untuk menjatuhkan Erdogan terus dilakukan, dan terus gagal. Bahkan, satu persatu petinggi militer, para jendral, yang dulunya orang terkuat di negara, harus berurusan dengan pengadilan. Puncaknya, pada pertengahan 2016, ketika Turki sudah semakin meninggalkan kesekulerannya, militer kembali bereaksi, 15 Juli 2016 kudeta militer kembali mencoba merebut pemerintahan Erdogan yang dipilih oleh rakyat secara demokratis, Ankara murka. Namun lagi-lagi, kesiapan dan belajar dari pengalaman kudeta masa lalu, membuat militer gagal menggulingkan presiden Turki.

Menuju 100 tahun berdirinya Republik Turki, atau 100 tahun kejatuhan Turki Utsmani, bangsa Turk ingin bangkit. Beberapa bidang yang menjadi sasaran pemerintah Turki adalah menguasai bidang ekonomi dunia, pertahanan, transportasi hingga hubungan luar negeri. 

Tercatat dalam sejarah, Kesultanan Ottoman memiliki pengaruh yang sangat luas dalam perpolitikan dan perdagangan dunia. Pengaruh sampai ke Eropa Timur, sebagian wilayah Afrika, hingga Asia Tenggara. Bahkan pada sekitar abad ke-16 -1566 M, Kesultanan Aceh Darussalam pernah bekerjasama bidang militer dengan Ottoman, yang membuat Sultan Selim II mengutus Kurdoglu Hizir Reis berlayar ke Aceh, membawa senjata dan ahli perang untuk membantu Aceh mengusir Portugis di Melaka.

Lantas, apa yang membuat Barat takut? Bangsa Turki mempunyai sejarah panjang dalam dunia, menjadi khalifah selama kurang lebih 600 tahun, dan menjadi abad kegelapan bagi dunia barat. Yeni Turki 2023, ingin menghidupkan kembali kehebatan yang pernah dimiliki oleh Turki semasa Khilafah Selcuk dan Khilafah Utsmaniyah, serta menggunakan kekuatan dan pengalaman Republik Turki dalam membangkitkan kembali Turki yang sempat mati suri.

Kudeta gagal oleh militer, bom yang meneror Turki, rencana merusak hubungan baik Turki-Rusia, menjadi agenda musuh untuk menghambat kemajuan Turki. Hal ini sangat disadari oleh ilmuan-ilmuan Turki. Turki Baru yang dilihat barat, bukan saja akan membangkitkan kembali Turki sebagai sebuah negara super power, akan tetapi mengubah geo politik dunia. 

Turki dikhawatirkan akan menjadi suara lantang dunia Islam, dan mempengaruhi kebangkitan negara-negara Islam yang lain. Ini adalah tantangan terbesar Turki dalam menyambut 100 tahun keruntuhan Turki Utsmani- atau 100 tahun Republik Turki. Pada 1453 Turki mampu menyeberangkan kapal dari atas bukit, 2016 sukses menyelami laut dengan mobil. Bagaimana dengan 2023? Erdogan menyebut, target mereka bukan saya, tapi Turki 2023. []

*Artikel ditulis awal Januari 2017 (tulisan ini sudah pernah dimuat majalah Warta Unsyiah)

Comments