Surat Sultan Aceh Kepada Raja Turki Terkait Penjajahan Belanda


Sultan Muhamamd Daod Syah_wiki.jpg
Sultan Muhammad Daod Syah (Sumber)
Kerajaan Aceh dengan Kesultanan Turki pertama kali dibangun Suthan Ali Riayat Syah Al Qahar yang memerintah dari tahun 1557-1568 dengan Sulthan Salim Khan. Ketika Belanda menginvansi Aceh pada 1873 hubungan itu masih terjalin. Sultan Aceh Muhammad Daod Syah mengirim surat kepada Raja Turki, Sultan Salim.
Pada bagian atas kanan surat tertulis “Ke Negeri Rum, Konstatinopel, bab al ‘Ali”. Pada surat itu juga tertera stempel Kerajaan Aceh, Cap Sikureng, yang berisi nama sembilan nama Sultan Aceh, yang di lingkaran tengahnya tertera nama Raja Aceh yang sedang berkuasa, Sultan Muhammad Daod Syah dan di sebelah kanan cap sikureng tertera nama Tuanku Hasyim bin Tuanku Kadir dengan tarikh tahun 1273 Hijriah.
Ke Negeri Rum, Konstatinopel, bab al ‘Ali
Maha benar firman-Nya dan bagi-Nya kerajaan, wahai, Yang memenuhi keperluan, wahai Allah Yang Maha Tinggi.
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang: Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam; Kepada-Nya lah kami minta pertolongan dalam urusan dunia dan agama. Akibat yang baik adalah bagi kaum yang taqwa dan tidak ada permusuhan kecuali bagi orang yang berbuat jahat. Sejahtera dan selamat atas yang paling mulia di antara para Nabi dan Rasul, Junjungan kita, Nabi kita serta Pemberi syafaat kita, Muhammad Salallahu ‘alaihi wa’ala ‘alihi wa sahbihi wassalam.
Wahai Allah, berilah kemenangan kepada mereka yang berjuang bagi agama Islam. Wahai Allah, tinggalkanlah mereka yang meninggalkan agama Islam. Kemudian: Limpahkanlah salam sejahtera atas Baginda, atas Kemuliaan Baginda yang terhormat, serta rahmat Allah dan berkah-Nya, Tuan-tuan kita yang luhur, dan syarif-syarif kita yang mulia dan terhormat, syarif dan teladan kita Abdullah, putra mendiang Syarif Muhammad bin Aun dan selanjutnya Tuan kita dan teladan kita Sayyid As’ad, semoga Allah melindunginya di dunia dan akhirat. Semoga Allah memberi kita nikmat arti kehidupan beliau di dunia ini. Amin. Beliau-beliau akran dengan tuan kita, Khalifah kita, Raja kita, khaqan yang terbesar dan tertinggi, Tuan kita Sri Sultan di dua benua dan dua samudera, pengurus atas dua kota suci yang mulia (Mekah dan Madinah). Tuan kita Sultan Ghazi (yaitu yang telah berjuang demi agama kita, jelasnya melawan bangsa Rusia) Abdul Hamid Khan, putra tuan kita Sultan Ghazi bin Abdulmajid Khan.
sultan-abdul-hamid-ii-_Republika.jpg
Sultan Abdul Hamid II Sumber
Pembicaraan dan pertanyaan mengenai keadaan Sri Paduka Yang Mulia, dari Kami di Negeri Aceh, Paduka Sri Sultan Alaiddin Muhammad Daod Syah bin Sultan Alaiddin Mansur Syah, menetap sebagai bayangan Allah di dunia, sementara Raja berkedudukan dalam pekerjaannya di Negeri Aceh dan di benteng Keumala. Kami sampaikan urusan dan keadaan kami kepada Allah dan kepada Paduka Tuan Yang Mulia dan kepada Sri Baginda Tuan Khalifah dan Raja kami, Malik kami, Sultan Ghazi Abdul Hamid Khan, disebabkan oleh kafir Belanda terkutuk yang sampai sekarang sudah 24 tahun berusaha untuk mengepung semua tempat kami, yang menguasai laut serta menutup semua kuala (muara sungai kecil), 127 jumlahnya. Nama-nama kuala itu saya lampirkan dengan surat permohonan kepada Sri Paduka Yang Mulia ini. Kafir Belanda telah menutupinya dari laut dengan mercu suarnya (kapal uap) dan ia tidak membolehkan orang Islam keluar masuk. Malahan nelayan di laut ditahannya dan dibawanya ke Betawi sebagai tawanan. Berapa orangkah di antara kaum muslimin yang sudah dicelakakan oleh orang jahat itu di Negeri Aceh?
Begitulah keadaan dan aduan kami ke hadapan Sri Baginda Tuan Malik dan Khalifah serta Raja Kami.
Kemudian, dalam sebuah sejarah lama telah kami dapatkan bahwa pemerintahan di negeri Aceh bersama dengan pemerintahan Tuan dan Malik kita Sultan Ghazi Salim Khan, pada suatu tahun, yaitu tahun 1208 (1993-1794 Masehi), ia telah mengirim 44 orang Turki dan 8 meriam. Lalu kafir Belanda yang terkutuk itu telah memerangi negeri Aceh dan meriam-meriam pun dibawanya ke tanah Betawi. Dan sekarang didudukinyalah semua tempat dengan melawan kita serta mengepung laut dan menutup semua pintu gerbang dengan tak membiarkan seorang pun di antara muslimin bernafas.
300px-Ottoman_and_Acehnese_guns_after_the_Dutch_conquest_of_Aceh_in_1874_Illustrated_London_News.jpg
Ilustrasi surat kabar London News tahun 1874 tentang meriam-meriam Turki di Aceh Sumber
Karena itulah kami harapkan rahmat Allah Yang Maha Pemurah serta kebajikan dan kemurahan hati Sri Paduka Yang Mulia, dalam perlindungan Allah Ta’ala, serta Tuan, Malik, Khalifah, Raja, Malik kita Sultan Ghazi Abdul Hamid Khan bin Sultan Ghazi Abdul Majid Khan, semoga Allah memberi kita nikmat akan kehidupan dalam urusan agama maupun dunia. Amin.
Itulah permohonan kami ke hadapan Tuan, Khalifah, dan Raja kami, agar kami dapat mengusir musuh kami ini dari kerajaan kami dan mengalami ketenangan dalam kerajaan kami, dan penduduk kerajaan kami, serta boleh menegakkan agama kami demi Allah Tuhan semesta alam dan bagi yang termulia dari pada segara Rasul Allah, Muhammad penutup para Nabi, sallalahy ‘alaihi wa sallam.
Kami mempunyai seorang kuasa usaha di Penang dan Singapura, yaitu Syekh Ali.
Itulah jalannya peristiwa di negeri Aceh dan Allah adalah sebaik-baik saksi. Allah cukup sebagai wakil.
Di sini berakhirlah sembah kami dalam kebaikan, Amin.
Di sini Aceh.
Di Kota Keumala, Selasa, 12 Jumadil Awal (21 Noveber 1893)
Salinan surat tersebut bisa dilihat dalam buku Nasihat-Nasihat C Snouck Hurgronje Semasa Kepegawaiannya Kepada Pemerintah Hindia Belanda 1889-1936, seri khusus jilid II halaman 169-171. Terjemahan surat tersebut dari bahasa Arab ke bahasa Belanda dikirim oleh Snouck Hurgronje kepada Kepala Sekretaris Pertama Pemerintah Hindia Belanda pada 10 April 1894.
oleh : Iskandar Norman (Steemit : @isnorman), jurnalis, blogger, penikmat kopi, penyuka sejarah dan budaya

Comments